Resensi: Blur - Think Tank
Think Tank dibuat di tengah-tengah perginya gitaris mereka Graham Coxon. Layaknya semua band yang mampu bertahan dengan formasi asli cukup lama, apabila salah satu dari anggotanya keluar, mereka dibaratkan kapal kehilangan nahkoda. Alhasil media-media kala itu membombardir mereka dengan pertanyaan eksistensi band yang membuat Brit Pop populer di era 90-an ini. Isunya perbedaan di visi musik membuat Coxon dan sang frontman Damon Albarn terbelah jadi dua. Damon punya arah yang cukup berbeda secara signifikan untuk Think Tank. Dan hasilnya bisa dirasakan dengan jelas di album ke-7 mereka ini.
Simak 2 lagu pembuka album ini yang cukup “berbeda” tapi tetap menampilkan sensibilitas pop yang harmonis ala Blur. “Ambulance” dari detik pertama sudah dibalut suara drum dan perkusi yang sudah diprogram, sementara “Out of Time” jauh lebih akustik dengan adanya kontribusi orkestra Maroko (yang juga merupakan salah satu lokasi perekaman album ini). Bagi mereka yang masih rindu dengan suara gitar Coxon, ada jejak peninggalan gitaris berkacamata itu di lagu terakhir “Battery in Your Leg”.
Bayangkan intensitas gitar lo-fi di lagu “Song 2” tapi diisi dibelakang dengan dentuman drum digital dan beberapa sampling yang diisi oleh Fatboy Slim, maka anda mendapatkan single mereka “Crazy Beat”. Kalau boleh jujur lagu ini cukup mengingatkan saya dengan lagu mereka “Bug Man” dari album 13. Bedanya teriakan ‘Yeah yeah yeah’ di lagu ini seperti dipaksakan untuk mengisi kemalasan mengisi vokal, tapi tidak bisa dipungkiri disitu letak catchy-nya lagu ini. Tidak begitu spesial sebenarnya untuk menjadi single.

Secara produksi sound album ini menurut saya brilian. Kalau anda sudah mendengar album 13 mereka maka seharusnya Think Tank tidak menjadi lompatan yang cukup jauh. Digarap secara lebih imajinatif dan eksperimental. Damon Albarn yang waktu itu juga tengah menggarap grup musik kartun Gorillaz bisa didengar dengan jelas sentuhannya. Bukannya mengesampingkan karakter gitar Coxon yang selama ini terdengar cukup jelas di lagu-lagu Blur, tapi Think Tank jadi pembuktian kaliber Blur sebagai kumpulan musisi dengan visi musik yang cerdas.
Tema lirik tidak jauh berubah seperti Blur yang lama, sporadis dan berbeda di tiap lagunya. Sudah jelas departemen itu diisi Albarn. Satu yang pasti proporsi suara akustik yang dulunya banyak terdengar ditekan seminim mungkin di album ini. Sound yang keluar dari semua instrumen tampak begitu dipoles, tapi tidak overdone untungnya.
Cover art albumnya juga bisa dibilang terbaik (apalagi kalau dibanding Parklife). Anda yang familiar dengan karyanya pasti sudah bisa menebak kalau artworknya digarap oleh bukan lain, street artist paling terkenal di dunia saat ini, Banksy.
1. Ambulance
2. Out of Time*
3. Crazy Beat
4. Good Song
5. On the Way to the Club
6. Brothers and Sisters*
7. Caravan
8. We’ve Got a File on You
9. Moroccan Peoples Revolutionary Bowls Club*
10. Sweet Song
11. Jets
12. Gene by Gene
13. Battery in Your Leg
*= My picks
Rating: 8,7/10
PS: terdapat 2 lagu extra di versi Jepang album ini, “The Outsider” dan “Me, White Noise”
(2003/Parlophone & Virgin)
Resensi: Sweet Trip - Velocity Comfort Design
Setelah lama tidak mendengarkan musik elektronik, akhirnya saya menemukan satu album lagi yang saya anggap sangat menarik untuk disimak. Album ini merupakan album ke-2 dari Sweet Trip, sebuah grup yang berasal dari San Francisco, California, Amerika Serikat. Sebenarnya agak sulit mendeskripsikan jenis musik mereka, walaupun garis besar dari musik mereka adalah elektronik, namun mereka mencampuradukkan unsur-unsur indie pop, electro pop, break beat, sedikit shoegaze dan chaotic-sound sekaligus, jadi bisa dibilang mereka adalah grup multi-genre. Mereka sendiri mengakui bahwa mereka dipengaruhi oleh band-band yg beragam mulai dari MBV, Slowdive, Autechre, Seefeel, Sonic Youth, Aphex Twin hingga musisi2 klasik.
Satu yang perlu diperhatikan adalah dibalik “keabstrakkan” lagu-lagu Sweet Trip, mereka tidak meninggalkan celah sedikit pun; begitu anda mendengar musik mereka, telinga anda seperti diserang ion2 yang tidak luput satu millimeter pun dari telinga anda. Musiknya benar-benar kaya dan padat.
Saya belum mendengarkan album-album lama mereka, jadi saya tidak akan membuat suatu perbandingan disini. Tetapi kalau ternyata ada yang memberitahu saya bahwa album-album terdahulu mereka bisa lebih bagus daripada yang satu ini, saya akan buru-buru berlari ke toko cd terdekat.
Keindahan dari sebuah album elektronik adalah tidak adanya jeda diantara tiap lagu-nya, sehingga seakan-akan setiap lagunya bersambung dalam suatu alur. Hal yang sama terjadi di album yang satu ini. Sweet Trip membangun mood anda dari detik awal hingga detik terakhir. Selama 1 jam 13 menit kita dibawa menuju suatu petualangan dimana beat-beat patah, beribu suara synth dan suara sang vokalis yang sangat angelic itu menjadi pendamping kita. Coba pejamkan mata anda (tidak selagi menyetir tentunya) dan coba asosiasikan musiknya dengan visualisasi anda sendiri, maka anda akan dapat apa yang saya rasakan.
Sebagai pembuka kita disambut oleh “Tekka”, sebuah lagu yg langsung menghentak dengan serangan-serangan bebunyian masif seperti layaknya hardcore-techno, cukup mengagetkan sekaligus mencengangkan. Kontras dengan lagu selanjutnya, “Dsco” yang malah cenderung ke pop atau electronic-pop. Jauh lebih melodius dan “ringan” di telinga dibanding lagu pertama. Salah satu lagu yang bisa dikategorikan sing-along-song di album ini.
“Velocity” dan “Fruitcake and Cookies”, diperkaya dengan sampling-sampling yang cenderung robotic, departemen chaotic benar-benar bermain disini, mengingatkan saya akan Telefon Tel-Aviv. Sementara “Chocolate Matter”, salah satu lagu favorit saya di album ini justru cenderung ke arah indie pop yang memiliki sentuhan-sentuhan shoegaze dengan sound gitar yang gloomy, gelap dan menyayat. “International” yang merupakan lagu terpanjang di album ini (10 menit) juga akan mencuri perhatian anda dengan gabungan electronic dan suara sang vokalis yang benar-benar angelic, namun di akhir lagu justru terdengar suara-suara yg lebih “konvensional”, seperti gitar, keyboard, dll. “To All The Dancers Of The World, A Round Form Of Fantasy “ merupakan lagu yang sangat dreamy dan mengawang-awang.
2 lagu dengan judul yang bersambung “Design : 1” dan “Design : 2 3” saling memiliki ciri masing-masing. “Design : 1” cukup ringan tapi tidak meninggalkan kesan chaotic, selama 3 menit lebih seakan-akan sampling-sampling bertubrukan secara harmonis. “Design : 2 3” memiliki atmosfir yang bisa dibilang lebih uplifting tapi sekaligus lebih gelap. Bebunyian gitar elektrik shoegaze bisa didengar disini pada awal-awal lagu, sebelum nantinya digulung dengan ombak bebunyian elektronik. Sebagai lagu penutup album, lagu ini justru menutup dengan nuansa yang gloomy dan mengingatkan kita pada shoegaze, mungkin ini salah satu contoh yang disebut2 media sebagai neo-shoegaze.
Kekurangan dari album ini hanyalah sampling-samplingnya yang mungkin kedengaran repetitif. Selama beberapa lagu anda dihajar terus menerus dengan suara-suara yang intens dalam tempo cepat yang mungkin buat beberapa orang memusingkan. Namun lepas dari itu, salah satu grup yang bernaung dibawah label Darla Record ini dengan kejeniusan mereka berhasil merangkum berbagai genre ke dalam satu jalinan album yang luar biasa.
Track List:
01 Tekka
02 Dsco
03 Velocity
04 Fruitcake And Cookies
05 Sept
06 Pro : Lov : Ad
07 Design
08 International
09 Dedicated
10 Chocolate Matter
11 To All The Dancers Of The World, A Round Form Of Fantasy
12 Design : 2 : 3
*My picks: Dsco , Chocolate Matter, “Design : 2 3”
Rating: 9/10
Best Albums of 2008
Tidak terasa dalam hitungan hari kita bakalan menutup tahun 2008 ini. Beruntung lah saya karena akan mengakhirinya di kota favorit saya, Jakarta. Sudah pasti akan menjadi akhir taun yang lebih berkesan dari beberapa tahun terakhir. Namun begitu 2008 banyak mempertemukan saya dengan album-album yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Mulai dari Coldplay yang mampu kembali merenggut hati banyak orang dengan album terbarunya hingga Vampire Weekend yang mampu menarik atensi pendengar musik pop mainstream dan independen. Berikut ini adalah pilihan album terbaik yang dirilis tahun 2008 menurut saya:
Beach House - Devotion (Carpark)

Penggemar musik dream pop seperti saya serasa dimanja oleh Beach House. Irama lagu-lagunya yang mengawang ditambah suara sendu Victoria Legrand menyegarkan ingatan saya akan Slowdive dan Mazzystar. Walaupun ketiganya punya style-nya masing-masing mereka berada di koridor musik yang sama. Ada sesuatu yang berbeda di lagu-lagu mereka apabila dibandingkan band dream pop baru macam Tresspasers William. Beach House terasa lebih lo-fi dan digarap dengan minim instrumentasi. Namun ketika semuanya dipadukan ada keindahan yang tak terkalahkan dari genre pop satu ini. Album pertama mereka juga tak kalah bagusnya, jadi buat yang tertarik cari album self-titled mereka itu.
Coldplay - Viva La Vida (Parlophone/Capitol)

Ketika pertama kali saya mendownload Violet Hill secara gratis dari websitenya buru-buru saya mengambil earphone dan mencoba mendengar sejauh apa keberanian Coldplay di album barunya ini. Apa yang saya dengar sangat jauh berbeda dengan semua single yang dikeluarkan band Inggris ini. Mana petikan gitar maut ala Will Champion yang jadi ramuan tetap Coldplay tanya saya. Di album ini mereka berhasil keluar dari comfort zone yang bisa dibilang mengekang mereka di album X&Y. Album ini akhirnya mensolidifikasikan posisi mereka sebagai salah satu band terbaik saat ini. Lebih baik dari U2? ya dan tidak, kedua band punya kehebatannya masing-masing. Namun di album ini Coldplay berekspansi ke area musik yang tak pernah disentuh Bono dkk. Ada pop hingga shoegaze, ada sound landscape yang unik sepanjang album ini. Brian Eno memang terkenal mementingkan tekstur lagu. Dan Viva La Vida pun jadi salah satu album terbaik yang pernah dibuat Chris Martin dkk. Lebih baik dari Parachutes? ada beberapa momen yang membuat saya berani bilang begitu.
Vampire Weekend - S/T (XL Recordings)

Dari nama mereka saja kita sudah bisa berasumsi ada yang unik dengan band ini. Pertama kali mendengar lagu mereka “Mansaard Roof” saya langsung jatuh cinta, dan ketika saya dihadapi “Oxford Comma” saya tahu album ini adalah album yang spesial. Siapa bilang musik anak muda jaman sekarang harus agresif, gelap, kontroversial atau penuh emosi. Musim panas kemarin terasa lebih terik karena band asal NY ini.
Jakob Dylan - Seeing Things (Columbia Records)

Mungkin saya hanya salah satu dari beberapa orang yang memfavoritkan Jakob Dylan sebagai vokalis terbaik sepanjang masa. Kekaguman saya tentu saja beranjak dari pertama kali mendengar The Wallflowers dan ditambah lagi saya mampu mendapatkan kesempatan melihat penampilan live Jakob beberapa waktu yang lalu. Maka wajar saja ketika anak dari sang legenda Bob Dylan ini mengeluarkan karya solo-nya saya tak pikir 2 kali untuk mendengarkan albumnya. Hasilnya? kerinduan yang terbayar. Dengan Rick Rubin duduk di bangku produser rasanya semakin menjamin album ini bakalan jadi favorit saya tahun ini. Musik akustik yang lembut memberi kesan strip-to-basic. Inilah folk yang dipopulerkan oleh Bob Dylan, Tom Petty dan Neil Diamond. Sebagai anak seorang artis legendaris Jakob tak pernah menikmati spotlight glamornya hidup Hollywood, tak heran ada kedalaman ketika ia menyanyikan “My line of work suits me fine” di lagu “All Day and All Night”. Seeing Things dilantunkan seperti Jakob bermain gitar sendirian di ruang tamunya. Intim dan personal.
No Age - Nouns (Sub Pop)

Ketika orang bertanya musik apa yang dibawakan No Age dan didapatnya “Noise Punk” sebagai jawaban mungkin banyak yang terbelalak. Saya pun takut bercampur penasaran ketika menekan tombol “Play” dan memutar lagu pertama album ini, “Miner”. Apa yang saya dapatkan masih membuat saya heran hingga saat ini. Kenapa? karena Nouns adalah salah satu album yang sulit diutarakan keindahannya. Seperti mendengarkan Loveless atau Souvlaki. Bukan, bukan karena genre mereka sama. Tapi karena ada keindahan dibalik bisingnya lagu-lagu itu. Dan cuma beberapa orang yang mampu mengerti itu. Lagu-lagu mereka pendek, rapat dan intens. Seluruh bagian kuping serasa diserbu oleh band yang hanya terdiri dari 2 orang ini. Banyak gap janggal ditengah layaknya sebuah album lo-fi. Namun cacat-cacat kecil tersebut yang membuat sound mereka berbeda. Buat pengemar punk album ini seharusnya tidak terdengar asing.
Hercules & Love Affair - S/T (DFA Records)

Kalau tahun lalu ada LCD Soundsytem dengan Sound of Silver-nya yang menjuarai radio dan festival dance, maka tahun ini adalah Dj & produser asal Brooklyn bernama Andrew Butler yang duduk di singgasana album dance terbaik 2009. Muncul dengan proyek bernama Hercules & Love Affair, Andrew menelurkan sebuah album elektronik yang melodik, sebagian sintetik dan seluruhnya adiktif. Ibarat perjalanan retrospektif kita dibawa kembali ke era roller disco lalu didorong ke minimalistic house. Beberapa track juga meminjam vokal berkarakter dari Antony Hegarty dari Antony & The Johnsons, paling berkesan tentu saja di single mereka “Blind”. Album ini punya daya seduktif sama seperti Metro Area dan Escort. Tidak heran ketiganya berasal dari distrik NY yang sama.
Girl Talk - Feed The Animals (Illegal Art)
Orang bilang Greg Gillis dan projectnya dia yang satu ini adalah sebuah music lawsuit waiting to happen. Pasalnya ia tidak meminta ijin untuk memakai sample musik mereka; tak satupun dari artis yang anda dengar di lagunya. Namun begitu tidak ada yang tidak menakjubkan dari artis mashup satu ini. Greg bukan hanya menunjukkan bagaimana sebuah artis bisa “menjahit” sebuah lagu menjadi sebuah rangkaian. Tidak ada hal yang baru tentang itu, sudah ada yang namanya DJ. Tapi yang menjadikan Feed The Animals spesial adalah bagaimana rangkaian lagunya kebanyakan terdiri dari lagu-lagu yang ada di chart saat pembuatan album tersebut. Greg membuktikan bahwa dengan tehnik yang benar semua lagu tersebut punya satu lubang yang bisa dikaitkan satu sama lain. Impresif.
Best Non-2008 Albums
Entah karena situasi, selera atau kombinasi keduanya tapi faktanya saya lebih sering menemukan album-album lama menarik dibanding album baru. Setiap tahunnya keluar ribuan artis-artis baru, jadi kalau yang lama saja belum tergali semua rasanya seperti ada tanggung jawab moral. Dan kita semua tahu betapa tidak enaknya perasaan ditinggal.
Di tahun ini saya menemukan lagi beberapa artis yang saya percaya akan melekat terus di kuping saya seumur hidup, uniknya banyak dari negeri matahari terbenam, Jepang. Toe, sebuah band post-rock muncul begitu saja dari rekomendasi teman dan secara instan menjadi band favorit saya seumur hidup.
Akhir tahun ini saya menjadi begitu tertarik akan Jazz Hop, yang merupakan perkawinan antara old-school Hip Hop dan Jazz. Alhasil Nujabes, seorang DJ asal Jepang, membuat saya tak henti-hentinya mendengarkan Modal Soul. Semoga saja suatu hari saya mampu berangkat ke Jepang untuk liburan, dan kalau diizinkan bertemu dengan 2 artis yang sangat saya hargai tersebut. Berikut ini adalah album yang bukan keluaran tahun ini namun melekat di kuping saya setahun terakhir. My heavy rotation of the year:
- Nujabes - Modal Soul
- The Sound Providers - Looking Backwards: 2001-1998
- LCD Soundsystem - Sound of Silver
- Band of Horses - Cease to Begin
- John Mayer Trio - Try!
- Manic Street Preachers - Send Away The Tiger
- Mock Orange - Mind is Not Brain
- Toe - The Book About My Idle Plot On A Vague Anxiety
- American Analog Set - Know By Heart
Best Songs of 2008
Berikut ini adalah playlist lagu-lagu terbaik yang keluar di tahun 2008 menurut saya. Tahun ini didominasi oleh track-track Dance, bisa dilihat dari beberapa remix yang saya taruh di kumpulan lagu di bawah ini. Namun begitu dihiasi juga oleh beberapa nama lama seperti Coldplay dan The Cure. Selamat menikmati dan saya harap anda setuju.
Resensi: Boris - Pink
Berikut ini adalah resensi album Boris, “Pink”, yang saya buat tahun lalu. Awalnya resensi ini diperuntukkan zine saya yang sekarang sudah tutup, Musiklopedia. Untuk bernostalgia sekaligus mengarsip resensi-resensi lama yang saya tulis, beberapa hari ke depan akan saya posting yang sekiranya layak ditampilkan.
Sepertinya banyak sekali yang menggaungkan nama Boris di tahun 2006 lalu. Review-review baik dalam media cetak maupun online merupakan magnet atensi, dan yap mereka bekerja dengan baik. Saya sendiri yang sebelumnya tidak tahu menahu tentang band yang berasal dari Jepang ini pun menjadi tersedot.
Album ini benar-benar dahsyat. Andaikan saja saya dengar album ini lebih awal, maka sebuah slot untuk “album terbaik 2006” adalah mutlak milik mereka (walaupun sebenernya album ini telah dirilis dari tahun 2005). Namun biarlah, toh lebih baik terlambat dibanding tidak sama sekali.
“Farewell” sebagai track pembuka adalah lagu terbaik album ini. Menghembuskan nafas Shoegaze/Dream Pop dengan crossover kearah metal. Sludge? Jesu? Isis?. Entahlah, agak sulit untuk diutarakan atau disangkutkan dengan band lain. Kesampingkan dulu pelabelan genre, yang pasti track pembuka ini megah, haunting dan menakjubkan. Masuk ke lagu berikutnya, “Pink” bukanlah lagu yang anda kira akan ada setelah atmosfir yang dibangun “Farewell”. Lagu ini langsung menghempas kuping anda dengan gempuran gitar yang kuat dan membuat decibel-meter tape anda menjadi merah merona.
Bagi anda yang tidak butuh istirahat dan masih menginginkan lebih, maka ini adalah hari ulang tahun anda. ‘”Woman on the Screen” dan “Nothing Special” merupakan 2 track tanpa ruang untuk bernafas yang juga akan mencabik telinga anda. Pemompa adrenalin.

Harus diakui ekspansi musik Boris benar-benar luar biasa. Bayangkan stoner-rock berbahasa jepang maka yang anda dapat adalah sebuah lagu bernuansa psikadelia berjudul “Afterburner”. Sementara pada “Blackout” mereka menampilkan sisi Drone/Doom. Namun sekali lagi kita tertipu, ketika kita pikir bahwa kita akan dibawa Boris ke arah yang lebih gelap krn “Electric” merupakan sebuah track instrumental yang jauh berbeda dari atmosfir sebelumnya. Ditambah lagi “My Machine”, sebuah lagu instrumental ambient yang membuat semakin sulit untuk menaruh Boris di genre mana, tapi justru itulah yang menjadi nilai plus album ini.
Untuk para penggemar musik metal, album ini benar2 sebuah delight or a treat if I may say. Boris berhasil menelurkan album yang cerdas dengan pemetaan musik yang luar biasa luasnya. Rock, Metal and anything in between. Semua dirangkul dan dikemas dalam album yang luar biasa. Album ini akan lebih sempurna andai saja pengaturan lagu-lagunya lebih baik sehingga mood pendengar juga lebih bisa dimainkan.
Setelah berkolaborasi dengan soon-to-be-Drone-legend Sunn O))), Boris kali ini menjadikan Michio Kurihara, seorang gitaris Psychadelic Rock, sebagai tandem mereka dalam album “Rainbow”. Tentunya jangan dilewatkan, saya rasa anda juga tidak akan kecewa dengan album tersebut.
Rating: 9/10
Track list:
1. Farewell*
2. Pink*
3. Woman on the Screen
4. Nothing Special
5. Blackout*
6. Electric
7. Pseudo-Bread
8. Afterburner
9. Six, Three Times
10. My Machine
11. Just Abandoned My-Self
*= My picks
(Southern Lord)
Justice - DVNO
Def one of the best music video of 2008, again, by none other than the French techno duo Justice.
A Sharper Nine Inch Nails
Dengan semua perubahan dan kemajuan yang terjadi di dunia musik saat ini adalah suatu kewajiban seorang musisi/artis untuk mengambil langkah terbaik untuk karir mereka. Di tengah polemik dan menggunungnya keraguan akan masa depan major label, artis-artis terkenal macam Radiohead, Smashing Pumpkins dan Nine Inch Nails mulai mengambil kebijakan “taking matters into their own hands”.
Artis terakhir yang saya sebut mungkin bisa dibilang yang paling radikal. Secara publik telah mengecam eksistensi dan keserakahan major label lalu mengembargo semua fans untuk tidak lagi membeli album lama NIN. Karena menurutnya hak asasi-nya sebagai musisi telah diperkosa oleh label lama dia, Interscope.

Trent Reznor sang otak dibalik band Industrial ini memutuskan untuk keluar dari labelnya dan mengklaim kembali kontrol akan penjualan albumnya. Mulai dari rekaman, copyright, promosi, tur, dsb. akan ia pegang sendiri, begitu misinya. Beberapa album terakhir NIN (“Ghost I-IV”, “Year Zero”, “The Slip”) direkam dengan modal sendiri dan dirilis secara sensasional: gratis!. Album tersebut bisa diunduh secara cuma-cuma dari websitenya, yang ia minta hanya sedikit informasi tentang anda (baca: nama, email dan domisili). Formatnya digital pun tersedia di berbagai format audio dari yang paling kecil (MP3) hingga kualitas CD (FLAC). Sementara untuk format fisik ia menyediakan CD dalam beberapa packaging yang menarik (2 Disc, Deluxe Edition & Ultra Deluxe) dan Vinyl.
Segi promosi dan marketing pun tak kalah hebohnya. Secara kontroversial ia merilis semua file musik mentah dari semua lagu-lagu dari album “Year Zero” dan memperbolehkan semua fans untuk mengutak atik dan meremix-nya. Ini yang dinamakan menggunakan partisipasi fans secara cerdas. Hasil remixnya pun dibuat menjadi album dan sang fans mendapat ketenaran yang berbeda dibanding menjadi fans band lain. Win-win situation untuk semua.
Beberapa waktu yg lalu Trent meluncurkan ide terbarunya. Mengandalkan mailing list mereka yang mengunduh albumnya ia meminta partisipasi fans untuk mengisi sebuah angket tentang musik NIN. Mempelajari konsumer adalah sesuatu yang bahkan langka dilakukan major label. Mengetahui apa yang para fans mau akan sangat berguna untuk project Trent yang akan datang.

Memang apa yang dilakukan NIN sekilas tampak seperti sebuah aksi buta yang dilandaskan emosi seorang artis pada mesin korporasi macam major label. Namun kalau anda observasi sejenak, ada pelajaran cerdas yang bisa diambil dari Trent dan NIN. Hampir semua trik marketing musik di dunia digital ini dieksekusi dengan cerdasnya. Kalau anda pikir dengan membuat website, account di Myspace dan menjual lagu di iTunes adalah sebuah langkah karir yang sustainable maka anda salah. Dalam industri musik yang baru, adalah sang agregator yang meraup keuntungan besar. Sementara artis hanya mendapat sekian hingga nihil keuntungan.
Intinya adalah di “cutting out the middle man”. Trent berhasil melakukan itu dan meraup keuntungan bersih yang sudah sepantasnya ia dapatkan dari karyanya sebagai seorang musisi. Satu, copyright musik sudah seharusnya ada di tangan seorang artis. Tanpa artis tak ada bisnis. Kedua, sediakan musik anda dalam format yang berbeda-beda, dalam kasus NIN gratis untuk mereka pendengar casual, dan Deluxe bagi fans setia. Audiophile akan dipuaskan oleh format FLAC sedangkan para pendengar musik biasa cukup MP3. Variasi format dan packaging memberi pilihan yang memudahkan kategori penggemar anda. Sell music at any form imaginable.
Ketiga, pindahkan fokus kepada live show bukan penjualan album. Tanpa bantuan label, artis pun sudah bisa mengandalkan jutaan promotor di dunia untuk menggelar konser dan meraup lebih banyak keuntungan dibanding penjualan album di tengah jaman pembajakan seperti sekarang ini. Dan yang lebih hebatnya coba lihat kemegahan konser NIN di video bawah ini. Cukup hebat untuk band yang tidak disokong bantuan finansial dari perusahaan besar, hanya dari fans.
Tentunya hal yang dilakukan Trent ini hanya bisa dilakukan oleh artis yg sudah established. Grassroot marketing yang dilakukannya tak akan berjalan lancar kalau ia sendiri tak mempunyai kredibilitas musik dan jutaan fans sejati. Tapi hey, musik gratis adalah sebuah awal yang baik untuk meraih jutaan fans.
Paradigma yang mengandalkan Major Label sebagai manufacturer ketenaran dan kesuksesan semakin terkikis. Walaupun tidak di beberapa negara seperti Indonesia, tapi cepat atau lambat pemikiran yang ditelurkan NIN ini akan membawa dampaknya ke komunitas musik dunia. Indonesia memang tak pernah terkenal sebagai early adopter dalam hal bisnis di bidang musik, satu-satunya yang melaju dengan cepat adalah perkembangan telfon seluler. ![]()
Resensi: Global Metal
Tidak sah kalau saya dibilang seorang metalhead sebenarnya. Walaupun ibarat Metal itu Islam, saya sudah naik haji, umroh dan balik lagi naik haji. Saya sudah pernah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri penampilan dari Black Sabbath (formasi asli), Motorhead dan Slayer, tapi saya hanya seorang pendengar Metal baru. Band-band metal favorit saya juga baru itu-itu saja: Metallica, Motorhead, Mastodon, Jesu, Orange Goblin (album2 awal), Black Sabbath dan Boris (album Pink). Sudah jelas bukan tandingan Sam Dunn dan Scot McFayden, duet penggarap DVD Global Metal ini.
Ketertarikan saya akan karya Sam dimulai kali pertama menonton “Metal: A Headbanger’s Journey” yang menceritakan perburuan dia akan asal muasal genre musik kecintaannya ini. Kelar menonton proyek pertama dia saya jadi menaruh perhatian yang luar biasa akan scene musik ini. Mereka punya salah satu pengikut yang paling loyal, pikir saya. Dan alangkah bangganya seorang metalhead ketika menonton Headbanger’s Journey. Saya belum pernah mendengar seorang penggemar Pop keliling dunia hanya untuk menggali info tentang genre itu, padahal kita tahu genre Pop punya fanbase paling luas dan universal.
Di proyek kedua ini, Sam dan kru-nya travel mengelilingi dunia untuk menengok scene metal lokal di negara-negara yang agak unusual. Kalau anda pikir Metal cuma besar di sisi barat dunia maka anda salah besar. Di Global Metal Sam berkunjung ke Jepang, India, Israel bahkan Indonesia untuk menelusuri seberapa besar pengaruh genre yang dipelopori oleh Black Sabbath dan Blue Cheer ini.
Perjalanan dimulai dari Amerika Selatan, Brazil tepatnya. Rumah dari Max Cavallera dan band Tribal Metal legendarisnya, Sepultura. Siapa bilang cuma sepak bola yang di impor dari negara samba ini? ternyata metal punya massa yang luar biasa besarnya. Sam sempat mendatangi sebuah mall besar yang punya counter-counter merchandise metal, rasanya seperti melihat Blok M.

Sama halnya dengan India yang tersohor karena Bollywood-nya. Metalheads lokal pun menyayangkan pengkotakan perkembangan musik di India dengan genre film yang kaya akan tarian konyol itu. Mungkin mereka sama malunya kita dengan sinetron Indonesia hehe (pada intinya sih memang roots sinetron kita ya India, jelas-jelas Godfather sinetron kita juga turunan India. Yeah I’m talking to you Punjabis). Adegan lucu bisa dilihat ketika Sam mendatangi sebuah gig metal kecil yang bersampingan dengan sebuah acara pernikahan tradisional India. Yang tak kalah jenakanya juga adalah melihat Metalheads India menirukan gaya orang tua mereka yang tak suka dengan musik Metal yang mereka dengarkan.
Jepang rasanya sudah tidak mengherankan kalau soal musik. Band metal mana yang tidak mengagendakan Tokyo sebagai salah satu tujuan konser mereka? disaat negara Asia lain masih bergelut dengan ekonomi Jepang sudah kedatangan Deep Purple. Justru Cina yang membuat saya agak heran. Sebagai negara komunis mereka struggle di hal apapun. Kalau conversation di Skype saja mereka sensor, apalagi album-album Metal. Alhasil band metal pun harus berjuang keras demi tetap eksis.
Yang paling ditunggu tidak lain tidak bukan: Indonesia! sesi negara sendiri ini yang paling saya tunggu dari Global Metal. Apalagi setelah diceritakan salah satu teman saya Adit yang sudah bertemu langsung dengan Sam dan memberikan semua kaset-kaset Metal Indonesia kepunyaan dia dengan harapan Sam jadi tertarik berkunjung. Usaha dia untungnya terbayar. Sam berkunjung ke Jakarta dan bertemu beberapa musisi/jurnalis lokal kita seperti Arian13 (Puppen & Seringai), Ombat (Tengkorak), Wendi Putranto (jurnalis Rolling Stones), dll. Orang-orang yang sudah jelas tahu banyak soal scene Metal kita.

Sebagai negara Islam terbesar di dunia kita harus bersyukur pernah kedatangan Sepultura dan Metallica. Hebatnya lagi kedua konsernya meninggalkan kesan yang cukup dalam di personil band tersebut. Max Cavallera bahkan menyebut Indonesia sebagai Brazil kedua baginya. Konser Sepultura di Surabaya merupakan salah satu terbuas yang pernah ia liat. Tapi buat Lars Ulrich konser Metallica di Jakarta tentunya akan selalu lekat di ingatan dia. Kita bisa lihat segelintir footage dari konser legendaris yang berakhir naas tersebut. Ditambah lagi interview singkat dengan Ombat, vokalis band Metal legendaris Tengkorak yang bubar beberapa waktu silam.
Senang sekali scene lokal kita bisa mendapat exposure sebesar ini. Apalagi oleh orang berdedikasi seperti Sam dan kru-nya. Indonesia punya darah yang musik yang sangat kental, dan kita harus bangga akan itu. Kabarnya kesuksesan Global Metal ini membuat jadwal Sam fully-booked lantaran band-band Metal dunia (bahkan kabarnya Slayer juga!) meminta dia untuk menggunakan kemampuannya membuat dokumenter mereka!
Buat mereka yang menggangap kalau Metal itu cuma sekedar musik keras dengan knop volume diset maksimum dan anak-anak berpakaian hitam-hitam dengan duri-duri besi sebagai sabuk (tunggu mungkin itu Gothic hehe), coba lah nonton DVD ini dan karya Sam sebelumnya. Sebagai seorang antropologis ia berhasil melihat fenomena musik favoritnya dari kacamata para penggemar Metal yang dilihat sebelah mata saja oleh kebanyakan orang. Seperti musik, Metal juga membuahkan identitas, prinsip dan pemikiran, bukan hanya gaya pakaian. Metal punya salah satu komunitas fans tersetia di dunia. Seorang fans metal tidak mungkin bilang “Oh ya saya sempat suka Black Sabbath tahun itu”, sekali anda metalheads maka anda selalu jadi metalheads!







